Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

tentang keripik pisang asin dan hari yang berat

Hari ini aku pulang kerja dengan kepala penuh. Ada rasa yang menumpuk di dalam dada. Entah itu lelah, emosi, kesal, atau sedih yang tertahan-tahan sejak pagi. Aku tidak benar-benar tahu yang mana paling dominan. Tapi yang pasti,  semuanya berat. Rasanya ingin langsung rebah, ingin tidak bicara pada siapa-siapa dulu. Ingin dibiarkan diam — dan dimengerti begitu saja. Sampai akhirnya aku membuka tutup toples kecil di meja dan di sana, ada keripik pisang asin. Bentuknya sederhana, renyah, tidak banyak bicara. Tapi saat kunyahan pertama masuk ke mulut, ada sesuatu yang aneh tapi familiar: Rasa yang membuat aku tenang dan tanpa sadar aku tersenyum kecil. Bukan karena semua masalah selesai. Bukan karena bebanku hilang. Tapi karena ternyata, dalam hari yang terasa berat... aku masih diberi sesuatu untuk dinikmati. Aku jadi berpikir, bahwa dalam hidup itu… nggak semua hari bisa ringan, nggak semua beban bisa segera reda, dan nggak semua luka bisa langsung sembuh. Tapi di akhir hari, akan s...

hidup yang ingin kujalani pelan-pelan

Kadang aku membatin pelan… “Kalau hidup bisa seindah ini, aku ingin menjalaninya dengan cara apa ya?” Dan aku sampai pada satu jawaban yang mungkin terlihat sederhana: Aku ingin hidup yang pelan, yang penuh rasa, yang dijalani dengan hangat dan utuh. Aku ingin menjalani hari-hari yang tidak terburu-buru, tapi tetap berarti. Hari-hari di mana aku bisa jadi diriku sendiri, tanpa harus jadi versi yang sempurna untuk dunia. Aku mulai dari hal-hal kecil. Hal-hal yang orang lain mungkin lewatkan, tapi buatku... Di situlah letak arti. Seperti belajar berbicara lebih hangat, lebih lembut, lebih mendengar daripada menjawab. Aku ingin bisa hadir dalam obrolan ringan di warung, di jalan yang aku lewati, di tempat yang aku kunjungi, atau bahkan dalam diam yang saling mengerti saat ada teman bercerita panjang lewat pesan. Aku ingin… Kehadiranku jadi sesuatu yang menenangkan, meski hanya sebentar. Bukan karena aku tahu segalanya, tapi karena aku benar-benar peduli. Aku juga sedang belajar bahasa Jaw...

ternyata hidup bisa jadi seindah ini

Aku nggak tahu sejak kapan, tapi pelan-pelan… Aku mulai jatuh cinta lagi pada hidupku. Bukan karena semuanya berjalan baik, tapi karena aku memilih untuk melihatnya lebih pelan. Lebih lembut. Lebih penuh rasa syukur. Aku mulai meromantisasi hal-hal kecil — yang dulu mungkin lewat begitu saja. Seperti saat aku menelusuri lorong-lorong Lawang Sewu , sendirian. Tapi nggak benar-benar merasa sendiri. Ada bapak penjaga yang menyapa hangat, kucing kecil yang mendekat tanpa takut, dan udara yang membawa rasa… Bahwa aku sedang berada di tempat yang mendengarkan diamku. Atau ketika aku naik gunung — tiga kali. Yang kedua sempat membuatku jatuh dan terluka. Tapi dari sana, aku mulai melihat: Bahwa hidup nggak selalu harus tentang pencapaian. Terkadang, cukup bisa pulang saja… Itu sudah kemenangan besar. Dan anehnya, meskipun tubuhku terasa sakit, aku justru bertemu banyak orang baik setelah itu. Aku masih ingat betul, saat tubuhku gemetar karena udara dingin, dan aku ditolong oleh orang-orang as...

memulai kembali mencintai hidupku

Aku pernah berjalan sangat jauh, tapi lupa bawa diriku sendiri. Pernah hidup, tapi rasanya seperti sedang absen dari tubuhku sendiri. Tersenyum tanpa lega, bangun pagi hanya karena waktu tak bisa dihentikan. Lama-lama, aku merasa asing dengan hatiku sendiri. Aku cepat lelah, cepat cemas, dan jadi diam-diam kehilangan arah. Dan aku sempat percaya, bahwa versi diriku yang begini... Tidak layak untuk dicintai. Karena siapa yang bisa mencintai yang berubah, yang tidak secerah dulu, yang pelan-pelan hilang dari diri sendiri? Tapi suatu malam, di sebuah kost putri kecil di Tembalang , aku duduk berhadapan dengan seorang teman lama. Kami makan malam seadanya, tapi rasanya seperti makan kenangan. Kami bicara tentang lelahnya jadi dewasa, tentang gagal dan kehilangan, tentang bertahan tanpa tahu apa yang sedang diperjuangkan. Dan entah kenapa, di sela-sela tawa kecil dan keheningan yang nggak canggung, aku merasa hadir kembali. Aku merasa dilihat. Aku merasa ada. Malam itu, ada sesuatu dalam d...

lembar diam

Aku pernah takut dengan diam. Karena diam itu sepi. Dan sepi itu… Menakutkan. Aku pernah mengira, kalau aku tidak ramai, maka aku tidak dicintai. Kalau aku tidak menjawab cepat, maka aku akan dilupakan. Kalau aku tidak selalu ada, maka aku bukan siapa-siapa. Tapi ternyata, diam bukan berarti tidak berharga. Dan sendiri bukan berarti hilang. Diam itu bisa jadi tempat istirahat. Dan sendiri… bisa jadi ruang pulang. Beberapa waktu dalam hidupku terasa kosong sekali. Nggak ada kabar masuk. Nggak ada obrolan panjang. Awalnya aku gelisah. Tanya-tanya dalam hati, “kenapa nggak ada yang nyari aku?” “aku salah apa?” “apa aku nggak penting?” Tapi lama-lama, diam itu jadi seperti bantal empuk. Nggak berbunyi, tapi menenangkan. Aku mulai belajar mendengar: suara angin di sela jendela, detak jam dinding, napas sendiri. Dan, suara hatiku sendiri — yang biasanya tenggelam di antara keramaian. Di dalam diam, aku bisa mengakui rasa-rasa yang tak sempat diumumkan. Aku bisa bilang, "aku kecewa....

rasa yang tinggal, dan yang datang

Ada yang bilang, “Rindu itu bisa datang dari hal sekecil aroma dapur.” Dan ternyata… Aku percaya itu. Sudah empat tahun lebih aku jauh dari rumah, dari kota yang penuh masakan Sunda. Empat tahun jauh dari sambal yang selalu bikin segar, sayur asem yang rasanya kayak peluk pagi, pisang goreng, gorengan tempe, dan sorabi hangat yang selalu muncul bahkan sebelum ditanya.  Empat tahun jauh dari rumah yang bumbunya khas — bukan cuma karena racikannya, tapi karena orang-orang yang dulu menyiapkannya. Aku masih ingat, betapa ramainya meja makan, ruang keluarga, bahkan teras rumah waktu itu. Bukan cuma karena makanannya enak, tapi karena ada tawa yang saling sahut, piring yang selalu ditambah, dan suara khas: "nambah atuh..." Tapi waktu berjalan. Dan di antara empat tahun itu, ada satu kepergian yang membuat rasa di lidahku juga ikut berubah. Rasa yang dulu akrab, sekarang jadi kenangan. Aku rindu. bukan hanya pada makanannya. Tapi pada momen. Pada keluarga. Pada kehangatan yang dul...

setiap perjalanan menyembuhkan dengan caranya sendiri

Tahun lalu, rasanya berat sekali. Nggak semua orang tahu kenapa, tapi aku tahu betul rasanya. Satu-satu perasaan tumbuh jadi luka kecil yang diam-diam kubawa ke mana-mana. Aku sempat percaya aku nggak akan bisa sembuh. Nggak akan bisa merasa ringan lagi. Tapi ternyata… Jalan untuk pulih nggak selalu lurus. Kadang bentuknya belok-belok, berhenti di kota lain, ketemu orang yang nggak sengaja, tapi membawa rasa yang menenangkan. Dari situ aku mulai sadar: Setiap perjalanan menyembuhkan dengan caranya sendiri. Aku bertemu teman online yang udah enam tahun berteman tapi baru benar-benar ketemu untuk pertama kalinya. Cuma beberapa jam di Jogja — photobox , makan di taman dekat Sleman City Hall — tapi rasanya kayak puzzle kecil yang menemukan tempatnya. Aku juga ketemu teman-teman kecil yang lama banget nggak ketemu. Kami night ride bareng, makan iga bajog sampai tengah malam, bercanda tertawa sambil merasa: “eh, ternyata kita masih cocok ya.” Dan sebelum semua itu, aku sempat jalan kaki s...

hal-hal kecil yang diam-diam menyelamatkanku

Nggak semua hal berubah dengan keras. Kadang, yang paling terasa justru datangnya pelan. Lewat ruang yang baru, wajah-wajah yang asing, dan rutinitas yang mulai terasa beda. Aku nggak langsung bilang ke banyak orang. Nggak semua keputusan besar harus diumumkan besar-besaran. Karena kadang, yang paling menguras justru perubahan yang cuma bisa kita rasakan sendiri. Di tiga bulan terakhir tahun lalu, aku keluar dari tempat aku kerja setelah tiga tahun lamanya. Tempat pertama, tempat awal. Di situ aku banyak tumbuh, tapi juga diam-diam banyak menahan. Dan waktu akhirnya aku pergi, nggak ada momen dramatis. Cuma aku, sedikit lega, dan langkah yang masih gemetar. Aku cuma tahu: Aku ingin hidupku terasa tenang lagi, aku ingin mengenali diriku sendiri lagi. Aku masuk ke tempat baru, lalu pindah lagi. Dan di usia yang juga baru, aku kembali belajar menyesuaikan diri — dari awal, dari nol, dari pelan. Kadang rasanya kosong. Kadang takut. Kadang merasa “apa aku bisa terus begini?” Tapi ternyata… ...

ternyata aku terbiasa kuat, bukan karena ingin

Aku nggak pernah benar-benar siap ditinggal. Nggak pernah juga minta jauh dari orang-orang yang kuanggap rumah. Tapi kenyataannya, satu per satu mereka tetap pergi. Kadang tanpa pamit. Kadang dengan alasan yang nggak bisa kupahami. Kadang karena keadaan. Kadang karena memang harus begitu. Dan aku harus tetap bangun. Tetap sekolah. Tetap kerja. Tetap nyapa orang. Tetap ngerjain hal-hal biasa, padahal hatiku nggak biasa-biasa aja. Dulu aku sering banget bilang: “Aku gapapa kok. Gapapa. Beneran gapapa.” Padahal malamnya aku cuma diam di kasur sambil nanya ke diri sendiri: “Aku salah apa ya?” Lama-lama aku nggak nanya lagi. Nggak marah juga. Aku cuma belajar diam. Belajar menerima. Belajar melepas. Dan ternyata… Aku terbiasa kuat. Bukan karena aku ingin, tapi karena aku nggak punya pilihan. Aku belajar dari gagal, dari ditinggal, dari rasa yang nggak bisa diceritakan ke siapa-siapa. Aku belajar sendiri, buat tetap ada meskipun rasanya udah nggak punya apa-apa. Aku mulai ngerti, bahwa kehil...

sapa

Halo, aku Rain. Aku bukan orang yang banyak bicara, tapi ada banyak hal yang kusimpan diam-diam, dan kadang, ingin kutaruh dalam kata. Aku sedang belajar tenang. Bukan karena semuanya baik-baik saja, tapi karena aku ingin tahu rasanya tetap lembut, bahkan saat dunia terasa kencang sekali. Aku pernah diam terlalu lama, bahkan sepertinya sering. Bukan karena nggak ada yang ingin dikatakan, tapi karena nggak semua rasa bisa keluar dalam bentuk suara. Aku pernah tumbuh di tengah hiruk pikuk, sambil mencoba tetap memeluk diriku sendiri. Dan kali ini… Aku ingin belajar satu hal baru: bahwa menjadi pelan bukan berarti tertinggal, dan menjadi lembut bukan berarti kalah. Blog ini bukan tempat untuk terlihat kuat setiap saat. Justru sebaliknya — ini ruang kecil untuk merasa lemah, dan pelan-pelan menemukan bahwa ternyata, itu juga bentuk kekuatan. Dan kalau suatu hari kamu merasa lelah, aku ingin kamu duduk sebentar di sini. Buka satu halaman, dan mungkin.. Kamu akan merasa sedikit lebih bisa be...