hal-hal kecil yang diam-diam menyelamatkanku
Nggak semua hal berubah dengan keras. Kadang, yang paling terasa justru datangnya pelan. Lewat ruang yang baru, wajah-wajah yang asing, dan rutinitas yang mulai terasa beda.
Aku nggak langsung bilang ke banyak orang. Nggak semua keputusan besar harus diumumkan besar-besaran. Karena kadang,
yang paling menguras justru perubahan yang cuma bisa kita rasakan sendiri.
Di tiga bulan terakhir tahun lalu, aku keluar dari tempat aku kerja setelah tiga tahun lamanya.
Tempat pertama, tempat awal. Di situ aku banyak tumbuh, tapi juga diam-diam banyak menahan.
Dan waktu akhirnya aku pergi, nggak ada momen dramatis. Cuma aku, sedikit lega, dan langkah yang masih gemetar. Aku cuma tahu:
Aku ingin hidupku terasa tenang lagi, aku ingin mengenali diriku sendiri lagi.
Aku masuk ke tempat baru, lalu pindah lagi.
Dan di usia yang juga baru, aku kembali belajar menyesuaikan diri — dari awal, dari nol, dari pelan.
Kadang rasanya kosong. Kadang takut. Kadang merasa “apa aku bisa terus begini?”
Tapi ternyata… Di sela rasa-rasa yang berisik itu,
ada hal-hal kecil yang diam-diam menyelamatkan aku.
Kayak photobox bareng teman online yang udah enam tahun kenal. Kami baru ketemu sekali, cuma beberapa jam di Jogja. Tapi senyumnya, tawa canggungnya, semuanya terekam rapi.
Rasanya kayak dunia bilang, “terima kasih sudah bertahan sampai titik ini.”
Atau teman-teman kecil yang dulu sempat jauh.
Tapi malam itu kita ketemu lagi, naik motor, makan iga bajog sampai tengah malam,
dan tertawa seolah nggak ada jarak enam tahun di antara kita.
Atau bahkan ibu dan bapak di Jogja yang kasih petunjuk waktu aku nyasar. Aku nggak bilang aku lelah, tapi mereka bantu. Aku nggak minta dipahami, tapi mereka mengerti.
Kadang aku juga nemu hal kecil saat sendirian.
Kayak jalan kaki ke Alkid, jalan kaki ke pasar, beli air mineral di mbah uti yang ramah banget, bikin batik di Taman Pintar atau nemu seragam OSIS yang dulu cuma kupakai sekali, dan tiba-tiba aku ingin photobox sendirian — buat bilang ke diriku: “kamu pernah jadi semangat banget. Dan itu indah.”
Semua itu bukan kejadian besar. Bukan pencapaian, bukan kabar utama. Tapi mereka tinggal diam-diam di hatiku. Dan pelan-pelan,
mereka jadi jangkar.
Jadi bukti bahwa aku boleh bingung, boleh ulang dari awal, boleh takut, tapi aku tetap berjalan.
Buat kamu yang mungkin lagi di titik bingung juga, yang lagi banyak hal baru tapi hati belum siap sepenuhnya... aku harap kamu tahu:
Pelan-pelan juga nggak apa-apa.
Kamu nggak harus tahu semuanya sekarang.
Nggak harus kuat setiap saat. Karena ternyata,
yang kecil juga bisa menyelamatkan. Yang sederhana juga bisa bikin kamu pulang.
Dan yang pelan... Kadang justru lebih tahan lama.
---
📍 Ditulis di sela banyak hal yang berpindah — tempat, umur, rasa, dan aku yang sedang mencoba kuat lagi, tanpa harus keras pada diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar