Postingan

pertama kali

Halo. 👋 Udah lama banget aku engga nulis dan nyapa teman-teman online aku disini.  Bukan karena engga ada cerita, justru karena terlalu banyak hal baru yang pelan-pelan aku jalani. Sampai akhirnya, aku berhenti sejenak dan sadar kalau akhir-akhir ini hidup aku dipenuhi oleh banyak hal yang rasanya seperti “pertama kali”. Dulu, aku selalu ngira kalau  “pertama kali” itu identik dengan rasa takut. Dengan banyak kemungkinan gagal, dengan rasa engga siap, dengan hal yang seolah-olah lebih baik dihindari daripada dicoba. Tapi ternyata, engga semuanya seperti itu. Ada banyak “ pertama kali”  yang tetap datang dengan rasa takut, tapi di saat yang sama  “pertama kali”  itu juga bawa sesuatu yang hangat buat aku. Sesuatu yang diam-diam buat aku tumbuh. Aku masih ingat betul rasanya ketika pertama kali aku berani memutuskan untuk resign . Rasanya campur aduk. Takut, bingung, dan banyak banget pertanyaan yang numpuk di kepala aku. Rasanya kayak berdiri di persimpangan...

kehilangan yang menguatkan

Halo..  Sudah lama aku tidak menulis di sini. Bukan karena aku kehabisan cerita, tapi karena (lagi-lagi) hidup terlalu ramai di dalam kepala, sementara aku belum sempat benar-benar duduk dan mendengarkan diriku sendiri. Di awal tahun ini, aku kembali menulis. Bukan dengan cerita yang indah-indah dulu, tapi dengan satu bab yang paling jujur; tentang kehilangan. Lima tahun terakhir, aku hidup di kota ini. Kota yang pelan-pelan mengajarkan aku banyak hal. Tentang bertahan, tentang sendirian, tentang pulang yang tidak selalu dalam bentuk rumah. Aku hidup berdampingan dengan kesepian. Kadang ia tenang, kadang ia datang tiba-tiba dan membuat dada terasa penuh dan sesak. Ada rindu yang tidak pernah benar-benar pergi. Ada orang-orang dan keadaan yang hanya bisa kusimpan dalam ingatan. Ada pergi-pulang yang entah sudah berapa kali kulakukan, sampai lelah itu terasa biasa. Aku belajar menjalani hari-hari sendiri. Belajar menguatkan diri sendiri ketika tidak ada siapa-siapa. Belajar bilang ga...

bagaimana jika...

Belakangan ini, hari-hariku terasa bergeser sedikit. Tidak banyak, hanya berbeda dengan cara yang sedikit lebih halus. Ada kehadiran baru yang datang perlahan, seperti angin sore yang lewat tanpa meminta apa-apa, tapi meninggalkan hangat yang tinggal lebih lama dari seharusnya. Di dalam perubahan kecil itu, ada rindu yang ikut duduk di sampingku. Rindu yang lembut, tapi membawa bayangan takut. Keduanya berjalan bersama ; kadang saling mendahului, kadang saling menunggu. Dan aku berada di antara kedua itu, mencoba mendengar apa yang sebenarnya ingin disampaikan hati. Di momen-momen sunyi, muncul pertanyaan-pertanyaan yang datang tanpa suara. Pertanyaan yang tidak menuntut jawaban hari ini, tapi ingin aku akui keberadaannya. Bagaimana jika fase kemarin aku menyerah? Mungkin aku tidak akan mengenal versi diriku yang sekarang ; yang lebih pelan, tapi sedikit lebih kuat. Mungkin aku tidak akan tiba di titik kecil yang hangat ini. Bagaimana jika aku tidak pulang ke sini? Mungkin aku akan...

pulang yang hangat

Hari ini sepulang kerja aku mampir beli nasi goreng, semacam hadiah kecil untuk diri sendiri setelah seharian kerja. Di dekat mini market , aku melihat ada gerobak baru. Aku kira gerobak itu menjual onde-onde, tapi ternyata gerobak itu menjual tahu bulat. Mampirlah aku kesana. Entah kenapa, ketika pertama kali pesan sudah ada perasaan senang tersendiri. Serasa pulang ke rumah yang ada sosok ibu di dalamnya. Ternyata betul, ibu penjualnya orang Sunda . Kami sempat ngobrol sebentar, dan beliau terlihat bersemangat karena ada pelanggan yang mengajaknya bicara. Hati aku hangat sekali melihatnya. Tak lama, mas penjual nasi goreng langgananku juga ikut jajan di gerobak ibu. Plot twistnya , kami sama-sama pernah hidup di Bumi Pasundan  dalam waktu yang cukup lama.  Takdir memang tidak ada yang tahu, ya. Beberapa waktu lalu aku sangat merindukan suasana hidup di kampung dengan logat Sunda di dalamnya. Dan ya, hari ini Yang Maha Kuasa menjawab rasa rindu itu lewat kehadiran dan obrola...

sejenak tidak terasa jauh

Hari ini rasanya hangat dengan cara yang sederhana. Ada orang baru yang aku temui, tapi entah kenapa rasanya seperti teman lama yang pernah hilang dan baru bertemu kembali. Kami bisa tertawa tanpa jeda, seperti sudah lama saling mengenal. Aneh memang, tapi justru itu yang membuatnya menyenangkan. Seperti dunia memberi hadiah kecil tanpa kita minta. Sepulang kerja, aku mampir ke warung nasi goreng pinggir jalan. Lampu jalan temaram, udara sore menuju malam agak lembab, suara motor hilir-mudik, dan aroma nasi goreng yang bercampur asap tipis dari wajan. Lalu ponselku berdering, ternyata ada panggilan video dari kakak sepupu dan adikku. Aku angkat sambil tersenyum. Di layar, wajah mereka menyapaku, riang sekali. Kami berbicara sambil aku mengaduk-aduk nasi gorengku. Rasanya hangat sekali. Hangat karena ada suara yang menemaniku makan. Hangat karena ada tawa yang memecah sepi. Hangat karena walau jarak kami ratusan kilometer, mereka masih menemukan jalannya untuk duduk di meja kecil ini me...

badai yang tak dijanjikan reda

Tidak ada yang pernah menjanjikan bahwa hidup ini akan selalu cerah. Tidak ada yang bilang kalau semua luka bisa sembuh hanya dengan tidur semalam. Dan tidak ada yang memberi tahu, bahwa menjadi dewasa berarti harus menelan kenyataan—berulang kali—tanpa sempat bertanya, “kenapa aku?” Aku pernah ada di titik itu. Titik di mana rasanya seperti sedang berjalan di tengah hujan deras, tanpa payung, tanpa jaket, dan tanpa tahu arah pulang. Semua orang terlihat sibuk menyelamatkan diri mereka masing-masing, sementara aku berdiri di tengah, basah kuyup, dingin, dan sendirian. Aku pernah sangat marah pada hidup. Kenapa rasanya tidak adil? Kenapa kehilangan harus datang berkali-kali? Kenapa dunia seolah-olah diam saat aku teriak minta tolong? Tapi… setelah semua itu, aku belajar sesuatu. Ternyata, hidup tuh memang tidak pernah berjanji bahwa badai akan segera reda. Hidup hanya meminta kita untuk percaya, bahwa kita bisa bertahan, bahkan saat angin paling kencang datang. Karena bukan tentang sebe...

biarkan hidup mengalir sebagaimana mestinya

Kadang aku terlalu sering menuntut diriku untuk mengerti segalanya sekarang juga. Kenapa hidup begini?  Kenapa rasanya seperti berhenti di tengah jalan? Kenapa yang aku usahakan belum juga tiba di tempat yang kuharap? Lalu aku sadar…  Aku tidak harus mengerti semuanya hari ini. Aku tidak harus selalu punya jawaban untuk setiap tanya. Karena ternyata… Hidup tidak selalu minta untuk dijawab, kadang ia hanya minta untuk dijalani. Ada hari-hari ketika semuanya terasa membingungkan. Ada momen-momen ketika aku merasa terlalu tertinggal. Dan ada malam-malam ketika aku hanya bisa menatap langit dan bertanya dalam diam, “ apa aku akan baik-baik saja?” Dan di antara banyak pertanyaan itu, aku mulai belajar menerima: Bahwa tidak semua hal bisa aku paksa untuk terjadi. Bahwa luka tak selalu bisa disembuhkan cepat-cepat. Dan bahwa ketidakpastian… bukan berarti segalanya salah. Aku pernah ingin semuanya terjadi dalam waktu yang kuinginkan. Ingin segera berhasil. Segera sembuh. Segera sampai...