bagaimana jika...

Belakangan ini, hari-hariku terasa bergeser sedikit. Tidak banyak, hanya berbeda dengan cara yang sedikit lebih halus. Ada kehadiran baru yang datang perlahan, seperti angin sore yang lewat tanpa meminta apa-apa, tapi meninggalkan hangat yang tinggal lebih lama dari seharusnya.

Di dalam perubahan kecil itu, ada rindu yang ikut duduk di sampingku. Rindu yang lembut, tapi membawa bayangan takut. Keduanya berjalan bersama ; kadang saling mendahului, kadang saling menunggu. Dan aku berada di antara kedua itu, mencoba mendengar apa yang sebenarnya ingin disampaikan hati.

Di momen-momen sunyi, muncul pertanyaan-pertanyaan yang datang tanpa suara. Pertanyaan yang tidak menuntut jawaban hari ini, tapi ingin aku akui keberadaannya.


Bagaimana jika fase kemarin aku menyerah?
Mungkin aku tidak akan mengenal versi diriku yang sekarang ; yang lebih pelan, tapi sedikit lebih kuat. Mungkin aku tidak akan tiba di titik kecil yang hangat ini.

Bagaimana jika aku tidak pulang ke sini?
Mungkin aku akan terus mencari rasa pulang di tempat-tempat yang bahkan tidak memanggil namaku. Mungkin aku tidak akan tahu bahwa pulang kadang sesederhana merasa lega saat menutup pintu rumah.

Bagaimana jika aku tidak membuka hati lagi untuk orang baru?
Mungkin aku akan tetap aman, tapi hening. Mungkin aku tidak akan tahu bahwa membuka hati tidak selalu tentang siap ; kadang hanya tentang memberi sedikit ruang agar cahaya bisa masuk.

Bagaimana jika aku tidak mencoba hal yang baru?
Mungkin hidupku masih berjalan datar, tanpa degup kecil yang muncul ketika aku berani sedikit saja keluar dari lingkaran lama.

Bagaimana jika aku tidak mencoba makan makanan baru?
Mungkin aku akan melewatkan rasa-rasa kecil yang ternyata bisa membuat hati hangat. Mungkin aku tidak akan tahu bahwa terkadang kebahagiaan bisa datang dari sesuatu yang awalnya terasa asing, tapi perlahan jadi menyenangkan. Mungkin dunia punya banyak rasa baik yang menungguku, dan aku tidak pernah menjangkaunya.

Dan bagaimana jika aku tidak keluar rumah setiap hari?
Mungkin aku tidak akan bertemu udara pagi yang sedikit menenangkan, atau pertemuan kecil yang diam-diam mengubah sesuatu dalam diriku. Mungkin aku tidak akan melihat kebaikan yang sedang menunggu di luar pintu.


Semua “bagaimana jika” ini bukan untuk menakut-nakuti. Rasanya mereka datang untuk mengingatkanku bahwa aku sudah berjalan sejauh ini. Bahwa aku berani, meski pelan. Bahwa aku mencoba, meski sering kali dengan hati yang masih gemetar.

Akhir-akhir ini aku belajar bahwa tidak apa-apa jika aku belum menemukan semua jawabannya. Kadang kita hanya perlu merasakannya terlebih dahulu, membiarkan hati mengerti dengan ritme yang ia pilih sendiri.

Dan pada akhirnya, aku percaya. Setiap keraguan yang singgah, setiap pertanyaan yang terlintas, semuanya punya jawabannya sendiri. Mungkin tidak sekarang, mungkin tidak cepat. Tapi nanti, di waktu yang paling pelan dan paling tenang, aku akan mengerti mengapa semuanya harus datang dalam bentuk “bagaimana jika”.

Dan ketika saat itu tiba, aku harap aku bisa menatap kembali semua rasa yang pernah membuatku takut… lalu berterima kasih, karena tanpa mereka, aku tidak akan sampai ke sini ; ke tempat yang sedikit lembut, hangat, dan penuh kemungkinan baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sapa

memulai kembali mencintai hidupku

rumah yang tak lagi hangat