Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

badai yang tak dijanjikan reda

Tidak ada yang pernah menjanjikan bahwa hidup ini akan selalu cerah. Tidak ada yang bilang kalau semua luka bisa sembuh hanya dengan tidur semalam. Dan tidak ada yang memberi tahu, bahwa menjadi dewasa berarti harus menelan kenyataan—berulang kali—tanpa sempat bertanya, “kenapa aku?” Aku pernah ada di titik itu. Titik di mana rasanya seperti sedang berjalan di tengah hujan deras, tanpa payung, tanpa jaket, dan tanpa tahu arah pulang. Semua orang terlihat sibuk menyelamatkan diri mereka masing-masing, sementara aku berdiri di tengah, basah kuyup, dingin, dan sendirian. Aku pernah sangat marah pada hidup. Kenapa rasanya tidak adil? Kenapa kehilangan harus datang berkali-kali? Kenapa dunia seolah-olah diam saat aku teriak minta tolong? Tapi… setelah semua itu, aku belajar sesuatu. Ternyata, hidup tuh memang tidak pernah berjanji bahwa badai akan segera reda. Hidup hanya meminta kita untuk percaya, bahwa kita bisa bertahan, bahkan saat angin paling kencang datang. Karena bukan tentang sebe...

biarkan hidup mengalir sebagaimana mestinya

Kadang aku terlalu sering menuntut diriku untuk mengerti segalanya sekarang juga. Kenapa hidup begini?  Kenapa rasanya seperti berhenti di tengah jalan? Kenapa yang aku usahakan belum juga tiba di tempat yang kuharap? Lalu aku sadar…  Aku tidak harus mengerti semuanya hari ini. Aku tidak harus selalu punya jawaban untuk setiap tanya. Karena ternyata… Hidup tidak selalu minta untuk dijawab, kadang ia hanya minta untuk dijalani. Ada hari-hari ketika semuanya terasa membingungkan. Ada momen-momen ketika aku merasa terlalu tertinggal. Dan ada malam-malam ketika aku hanya bisa menatap langit dan bertanya dalam diam, “ apa aku akan baik-baik saja?” Dan di antara banyak pertanyaan itu, aku mulai belajar menerima: Bahwa tidak semua hal bisa aku paksa untuk terjadi. Bahwa luka tak selalu bisa disembuhkan cepat-cepat. Dan bahwa ketidakpastian… bukan berarti segalanya salah. Aku pernah ingin semuanya terjadi dalam waktu yang kuinginkan. Ingin segera berhasil. Segera sembuh. Segera sampai...

rumah yang tak lagi hangat

"Untuk kamu yang pernah merasa tak punya tempat pulang — semoga tulisan ini jadi pelukan kecil yang bisa kamu genggam." Ada satu masa dalam hidupku yang tak pernah benar-benar pulih. Masa di mana satu per satu orang yang aku sayangi harus pergi. Tak peduli seberapa erat aku ingin menggenggam, takdir selalu punya caranya sendiri untuk melepaskan. Aku kehilangan rumah. Bukan bangunan fisik — tapi rasa yang pernah hangat di dalamnya. Aku tumbuh dalam rumah yang dingin. Dingin karena suara-suara yang seharusnya memberi pelukan, justru datang sebagai amarah. Saat dunia terasa kacau, aku tidak punya tempat untuk bersandar.  Tidak ada tangan yang menyentuh punggungku dan berkata, “ nggak apa-apa, kamu udah hebat.”   Yang aku dengar adalah suara keras, dan rasa takut yang lama-lama jadi biasa. Aku, adikku, dan kakakku hanya bisa terdiam. Menutup telinga. Menahan napas. Menyembunyikan tangis. Tapi ada dua pelukan yang sampai sekarang masih terasa… Pelukan dari almarhumah uwa dan kaka...