badai yang tak dijanjikan reda

Tidak ada yang pernah menjanjikan bahwa hidup ini akan selalu cerah. Tidak ada yang bilang kalau semua luka bisa sembuh hanya dengan tidur semalam. Dan tidak ada yang memberi tahu, bahwa menjadi dewasa berarti harus menelan kenyataan—berulang kali—tanpa sempat bertanya, “kenapa aku?”

Aku pernah ada di titik itu. Titik di mana rasanya seperti sedang berjalan di tengah hujan deras,
tanpa payung, tanpa jaket, dan tanpa tahu arah pulang. Semua orang terlihat sibuk menyelamatkan diri mereka masing-masing,
sementara aku berdiri di tengah, basah kuyup, dingin, dan sendirian.

Aku pernah sangat marah pada hidup.
Kenapa rasanya tidak adil?
Kenapa kehilangan harus datang berkali-kali?
Kenapa dunia seolah-olah diam saat aku teriak minta tolong?

Tapi… setelah semua itu, aku belajar sesuatu.

Ternyata, hidup tuh memang tidak pernah berjanji bahwa badai akan segera reda. Hidup hanya meminta kita untuk percaya, bahwa kita bisa bertahan, bahkan saat angin paling kencang datang. Karena bukan tentang seberapa cepat hujan berhenti, bukan tentang seberapa cepat angin kencang berlalu, tapi tentang bagaimana kita tetap berjalan—meski pelan, meski gemetar.

Aku pun melangkah. Dengan sepatu yang sudah mulai sobek di bagian ujung karena banyaknya perjalanan, dengan napas yang berat tapi masih mau keluar rumah, dan dengan hati yang perlahan-lahan belajar kuat, bukan karena semuanya jadi lebih mudah,
tapi karena aku mulai mengerti:
Aku harus tetap hidup. Bahkan ketika merasa tidak kuat sekalipun.

Aku mulai melihat bahwa bentuk pertolongan dari semesta tidak selalu besar. Kadang datang dari sapaan hangat bapak parkir, dari kalimat penuh makna teman yang terhalang oleh jarak, atau dari lagu yang tiba-tiba diputar di saat hati sedang goyah— dan dari lihat foto Wonwoo juga hihi. 

Dan lambat laun… aku paham. Kalau bertahan hari ini bukan berarti aku harus tersenyum sepanjang waktu. tapi cukup dengan tidak menyerah. Cukup dengan mau bangun, walau tubuh masih berat. Cukup dengan bilang, “aku capek, tapi aku akan coba lagi besok.”

Untuk kamu yang sedang jalan sendirian di tengah badai, aku tidak tahu cerita hidupmu seberapa berat. Tapi yang aku tahu, kamu sudah sangat hebat bisa sampai sejauh ini. Dan meskipun langit belum menunjukkan tanda-tanda cerah, selalu percaya ya… bahwa kamu akan tetap menemukan jalan pulang. Karena kamu selalu punya dirimu sendiri—dan itu luar biasa.

Dan ketika nanti kamu berhasil melangkah lebih jauh lagi, lihatlah ke belakang sebentar. Berikan senyum kecil untuk versi dirimu yang dulu, yang pernah ingin menyerah, tapi memilih untuk tetap bertahan dengan begitu baik. 

Badai memang tidak dijanjikan reda, tapi kamu selalu bisa menciptakan hangatmu sendiri.
Dalam bentuk secangkir teh hangat, kopi, tulisan, senyum kecil, atau pelan-pelan… dalam bentuk cinta yang kamu pelajari untuk kamu beri ke dirimu sendiri.

Terus berjalan, ya.
Langkahmu penting.
Dan kamu, lebih kuat dari yang kamu kira.
Terima kasih sudah bertahan dengan baik.


---



Komentar

Postingan populer dari blog ini

sapa

memulai kembali mencintai hidupku

rumah yang tak lagi hangat