kehilangan yang menguatkan

Halo.. 

Sudah lama aku tidak menulis di sini. Bukan karena aku kehabisan cerita, tapi karena (lagi-lagi) hidup terlalu ramai di dalam kepala, sementara aku belum sempat benar-benar duduk dan mendengarkan diriku sendiri.

Di awal tahun ini, aku kembali menulis. Bukan dengan cerita yang indah-indah dulu, tapi dengan satu bab yang paling jujur; tentang kehilangan.

Lima tahun terakhir, aku hidup di kota ini. Kota yang pelan-pelan mengajarkan aku banyak hal. Tentang bertahan, tentang sendirian, tentang pulang yang tidak selalu dalam bentuk rumah. Aku hidup berdampingan dengan kesepian. Kadang ia tenang, kadang ia datang tiba-tiba dan membuat dada terasa penuh dan sesak.

Ada rindu yang tidak pernah benar-benar pergi. Ada orang-orang dan keadaan yang hanya bisa kusimpan dalam ingatan. Ada pergi-pulang yang entah sudah berapa kali kulakukan, sampai lelah itu terasa biasa.

Aku belajar menjalani hari-hari sendiri. Belajar menguatkan diri sendiri ketika tidak ada siapa-siapa. Belajar bilang gapapa aman meski sebenarnya tidak sepenuhnya aman dan baik-baik saja.

Tanpa aku sadari, semua itu sedang membentukku. Kesepian membuatku lebih dekat dengan diriku sendiri. Rasa rindu mengajarkanku menerima bahwa tidak semua yang kita sayang bisa kita miliki.
Dan semua perjalanan pergi-pulang itu mengajarkanku bahwa rumah kadang bukan tempat, tapi perasaan aman yang harus kita bangun sendiri.

Akhir-akhir ini, aku kembali merasa berat.
Seperti ada sesuatu yang diam-diam jatuh lagi di hatiku. Kali ini datang dari kehilangan yang sederhana, tapi terasa nyata. Ibu tahu bulat yang hampir setiap hari hadir, yang selalu menyapaku, memberi pukpuk kecil, yang kehadirannya pelan-pelan terasa seperti ibu sendiri, tiba-tiba pulang kampung.

Mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Tapi aku belajar bahwa kehilangan bukan soal besar atau kecilnya, tapi soal ruang yang ditinggalkan. Dan ketika ruang itu selama ini memberi hangat, kepergiannya pasti terasa.

Dari situ aku kembali diingatkan; 
Bahwa hidup memang akan terus mengambil. Kadang perlahan, kadang tiba-tiba. Ada pahit yang mau tidak mau harus kutelan. Ada kosong yang tidak bisa langsung terisi.

Tapi semakin ke sini, aku mulai mengerti sesuatu. Bahwa dari semua kehilangan yang pernah dan sedang aku alami, aku ternyata tidak runtuh. Aku masih di sini. Masih berjalan, meski pelan. Masih bernapas, meski kadang berat.

Kehilangan memang menyakitkan. Tapi ia juga meninggalkan sesuatu yang lain; kekuatan yang tumbuh diam-diam. Kuat bukan karena aku tidak sedih, tapi karena aku tetap memilih untuk melanjutkan hidup, meski sering kali harus berjalan sambil menahan perih.

Dan di awal tahun ini, aku ingin percaya satu hal sederhana. Bahwa tidak ada kehilangan yang benar-benar sia-sia. Bahwa semua yang sudah pergi, yang sedang pergi, dan yang masih menyisakan kosong di dada, tidak datang hanya untuk melukai.

Semoga dari semua kehilangan yang sudah dan sedang kita alami, kita tidak hanya belajar untuk bertahan, tapi juga belajar untuk bersinar. Lebih lembut pada diri sendiri, lebih jujur pada rasa, dan lebih berani menjalani hidup dengan versi kita sendiri.

Semoga tahun ini, segala pahit yang pernah ada menjadi alasan kita untuk melangkah lebih kuat. Dan semoga, dari semua kehilangan itu, kita tumbuh menjadi diri yang tidak hanya kuat, tapi juga bersinar lebih terang dengan caranya masing-masing.

Semoga harimu baik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sapa

memulai kembali mencintai hidupku

rumah yang tak lagi hangat