sejenak tidak terasa jauh
Hari ini rasanya hangat dengan cara yang sederhana. Ada orang baru yang aku temui, tapi entah kenapa rasanya seperti teman lama yang pernah hilang dan baru bertemu kembali. Kami bisa tertawa tanpa jeda, seperti sudah lama saling mengenal. Aneh memang, tapi justru itu yang membuatnya menyenangkan. Seperti dunia memberi hadiah kecil tanpa kita minta.
Sepulang kerja, aku mampir ke warung nasi goreng pinggir jalan. Lampu jalan temaram, udara sore menuju malam agak lembab, suara motor hilir-mudik, dan aroma nasi goreng yang bercampur asap tipis dari wajan. Lalu ponselku berdering, ternyata ada panggilan video dari kakak sepupu dan adikku.
Aku angkat sambil tersenyum. Di layar, wajah mereka menyapaku, riang sekali. Kami berbicara sambil aku mengaduk-aduk nasi gorengku. Rasanya hangat sekali. Hangat karena ada suara yang menemaniku makan. Hangat karena ada tawa yang memecah sepi. Hangat karena walau jarak kami ratusan kilometer, mereka masih menemukan jalannya untuk duduk di meja kecil ini meski hanya lewat layar ponsel.
Aku sadar, orang mungkin mengira aku anti sosial. Aku jarang terlihat bersama banyak orang. Aku sering terlihat sendiri. Tapi kenyataannya… aku melankolis. Aku menyimpan rindu untuk orang-orang yang jauh. Aku merindukan percakapan sederhana yang hanya bisa dimiliki dengan orang-orang yang mengerti tanpa perlu banyak kata.
Kadang aku sangat sepi. Sepi yang tidak selalu terlihat dari luar, tapi terasa dalam sekali di hati. Dan malam ini, sepi itu sedikit berkurang. Mereka hadir, walau hanya dalam bentuk suara dan gambar. Mereka membuat warung nasi goreng pinggir jalan ini terasa seperti rumah.
Dan aku rasa, ada momen-momen dalam hidup yang seperti ini. Tidak besar, tidak megah, tapi meninggalkan bekas hangat yang lama hilangnya. Hari ini salah satunya.
Dan di tengah obrolan itu, tiba-tiba wajah mungil yang baru beberapa hari melihat dunia muncul di layar, keponakanku. Pipinya merah, matanya masih sering terpejam, napasnya pelan. Rasanya seperti melihat kehidupan yang baru mulai berjalan, penuh janji dan harapan.
Malam ini, di warung nasi goreng pinggir jalan, aku ditemani suara tawa, wajah orang-orang yang kucintai, dan mata mungil yang baru belajar menatap dunia.
Untuk sesaat, aku tidak merasa jauh dari siapa pun. Untuk sesaat, aku tidak merasa sendirian.
Untuk sesaat, semua jarak hilang, semua lelah reda.
Mungkin memang begitu cara semesta mengirimkan pelukan lewat momen-momen kecil yang tidak kita rencanakan, tapi kita syukuri sepenuh hati.
Untuk semua hati yang saling menenangkan dari jauh, semoga kita selalu menemukan cara untuk bertemu, meski tanpa benar-benar ada di tempat yang sama..
Semoga harimu baik!
Komentar
Posting Komentar