ternyata aku terbiasa kuat, bukan karena ingin
Aku nggak pernah benar-benar siap ditinggal.
Nggak pernah juga minta jauh dari orang-orang yang kuanggap rumah.
Tapi kenyataannya, satu per satu mereka tetap pergi. Kadang tanpa pamit. Kadang dengan alasan yang nggak bisa kupahami. Kadang karena keadaan. Kadang karena memang harus begitu.
Dan aku harus tetap bangun. Tetap sekolah. Tetap kerja. Tetap nyapa orang. Tetap ngerjain hal-hal biasa, padahal hatiku nggak biasa-biasa aja.
Dulu aku sering banget bilang:
“Aku gapapa kok. Gapapa. Beneran gapapa.”
Padahal malamnya aku cuma diam di kasur
sambil nanya ke diri sendiri:
“Aku salah apa ya?”
Lama-lama aku nggak nanya lagi. Nggak marah juga.
Aku cuma belajar diam. Belajar menerima. Belajar melepas.
Dan ternyata… Aku terbiasa kuat. Bukan karena aku ingin, tapi karena aku nggak punya pilihan.
Aku belajar dari gagal, dari ditinggal, dari rasa yang nggak bisa diceritakan ke siapa-siapa.
Aku belajar sendiri, buat tetap ada meskipun rasanya udah nggak punya apa-apa.
Aku mulai ngerti, bahwa kehilangan tuh bukan akhir. Tapi titik untuk mulai lagi. Dengan hati yang lebih hati-hati, tapi juga lebih berani.
Sekarang kalau kamu lihat aku senyum, bukan karena hidupku ringan. Tapi karena aku memilih untuk nggak nyerah. Karena aku tahu rasanya patah, tapi aku juga tahu rasanya bangkit —
pelan-pelan, walau gemetaran.
Dan kalau kamu juga lagi ngerasa kayak gitu...
Lagi belajar bertahan, lagi ngerasa sendiri,
lagi pura-pura kuat di depan banyak orang —
Aku harap kamu tahu:
Aku juga pernah ada di situ. Dan kamu nggak sendirian.
Kita boleh nangis. Boleh berhenti sebentar.
boleh bilang ke diri sendiri: “aku capek.”
Tapi habis itu... Yuk jalan lagi. Pelan-pelan aja,
nggak apa-apa.
—
📍 Ditulis buat aku yang lagi bertahan dan buat kamu yang mungkin lagi lelah, tapi tetap berdiri juga.
Komentar
Posting Komentar