rasa yang tinggal, dan yang datang
Ada yang bilang,
“Rindu itu bisa datang dari hal sekecil aroma dapur.”
Dan ternyata… Aku percaya itu.
Sudah empat tahun lebih aku jauh dari rumah, dari kota yang penuh masakan Sunda.
Empat tahun jauh dari sambal yang selalu bikin segar, sayur asem yang rasanya kayak peluk pagi, pisang goreng, gorengan tempe, dan sorabi hangat yang selalu muncul bahkan sebelum ditanya.
Empat tahun jauh dari rumah yang bumbunya khas — bukan cuma karena racikannya, tapi karena orang-orang yang dulu menyiapkannya.
Aku masih ingat, betapa ramainya meja makan, ruang keluarga, bahkan teras rumah waktu itu.
Bukan cuma karena makanannya enak, tapi karena ada tawa yang saling sahut, piring yang selalu ditambah, dan suara khas:
"nambah atuh..."
Tapi waktu berjalan. Dan di antara empat tahun itu, ada satu kepergian yang membuat rasa di lidahku juga ikut berubah. Rasa yang dulu akrab,
sekarang jadi kenangan.
Aku rindu. bukan hanya pada makanannya. Tapi pada momen. Pada keluarga. Pada kehangatan yang dulu terasa lengkap.
Dan ternyata, kerinduan itu mengajarkanku tentang sabar. Karena nggak semua rasa bisa kita kejar kembali. Ada yang cuma bisa diingat.
dan dipeluk dalam diam.
Aku pikir, aku akan terus hidup dalam rindu yang sama. Tapi hidup… seperti biasa, selalu punya cara sendiri untuk mengisi ruang yang kosong.
Di tempat baruku, aku mulai mengenal rasa-rasa lain. Rasa yang nggak mencoba menyaingi,
tapi pelan-pelan menemani.
Aku mulai suka gudeg — yang manis, tenang, dan diam-diam bikin kenyang sampai hati.
Aku mulai suka horog-horog — yang teksturnya aneh di awal, tapi lama-lama bikin kangen.
Aku mulai suka nasi pecel, selat solo, lontong campur, dan cara makan orang-orang di sini yang nggak pernah buru-buru.
Lama-lama aku sadar. Aku bisa suka hal baru,
tanpa harus melupakan yang lama.
Rasa lama mengajarkanku tentang rumah, tentang sabar, tentang kehilangan.
Dan rasa baru… Mengajarkanku tentang menerima, tentang tumbuh, dan tentang memberi ruang pada hal-hal baru yang datang tanpa direncanakan.
Sekarang, aku tahu:
Rasa itu bukan sekadar soal makanan.
Tapi tentang apa yang kita izinkan tinggal,
dan apa yang akhirnya kita izinkan masuk.
---
📍 Ditulis di tengah rindu yang diam-diam berubah jadi penerimaan. Dengan lidah yang pelan-pelan bisa bilang: “Aku suka rasa ini. Dan nggak apa-apa kalau rasanya beda.”
Komentar
Posting Komentar