tentang keripik pisang asin dan hari yang berat
Hari ini aku pulang kerja dengan kepala penuh.
Ada rasa yang menumpuk di dalam dada. Entah itu lelah, emosi, kesal, atau sedih yang tertahan-tahan sejak pagi. Aku tidak benar-benar tahu yang mana paling dominan. Tapi yang pasti, semuanya berat.
Rasanya ingin langsung rebah, ingin tidak bicara pada siapa-siapa dulu. Ingin dibiarkan diam — dan dimengerti begitu saja.
Sampai akhirnya aku membuka tutup toples kecil di meja dan di sana, ada keripik pisang asin. Bentuknya sederhana, renyah, tidak banyak bicara. Tapi saat kunyahan pertama masuk ke mulut, ada sesuatu yang aneh tapi familiar:
Rasa yang membuat aku tenang dan tanpa sadar aku tersenyum kecil.
Bukan karena semua masalah selesai. Bukan karena bebanku hilang. Tapi karena ternyata,
dalam hari yang terasa berat... aku masih diberi sesuatu untuk dinikmati.
Aku jadi berpikir, bahwa dalam hidup itu… nggak semua hari bisa ringan, nggak semua beban bisa segera reda, dan nggak semua luka bisa langsung sembuh.
Tapi di akhir hari, akan selalu ada pemanis kecil — atau bahkan rasa asin — yang entah bagaimana bisa menutup hari kita dengan lebih damai.
Kadang datangnya dari notifikasi kecil, atau chat singkat dari teman lama yang kita rindukan diam-diam. Kadang juga dari lagu yang terasa pas, diputar acak oleh semesta saat kita sedang berjalan pulang.
Dan kadang, datang dari toples keripik pisang asin yang malam ini aku buka di sela-sela napas panjang setelah pulang kerja. Sejak itu aku jadi belajar satu hal:
Kalau kamu sedang merasa lelah, nggak harus buru-buru bahagia kok.
Boleh banget merasa berat, boleh banget mengakui bahwa hari ini nggak baik-baik saja. Tapi… jangan lupa beri ruang untuk hal-hal kecil yang bisa menghangatkan hatimu lagi, meskipun itu cuma sebentar.
Karena ternyata, keripik pisang asin pun bisa jadi pelukan.
---
📍 Ditulis setelah pulang kerja, ditemani beberapa lagu Rony Parulian dan isi kepala yang mulai tenang karena keripik asin.
Komentar
Posting Komentar