memulai kembali mencintai hidupku
Aku pernah berjalan sangat jauh, tapi lupa bawa diriku sendiri. Pernah hidup, tapi rasanya seperti sedang absen dari tubuhku sendiri. Tersenyum tanpa lega, bangun pagi hanya karena waktu tak bisa dihentikan.
Lama-lama, aku merasa asing dengan hatiku sendiri.
Aku cepat lelah, cepat cemas, dan jadi diam-diam kehilangan arah. Dan aku sempat percaya,
bahwa versi diriku yang begini... Tidak layak untuk dicintai.
Karena siapa yang bisa mencintai yang berubah,
yang tidak secerah dulu, yang pelan-pelan hilang dari diri sendiri?
Tapi suatu malam, di sebuah kost putri kecil di Tembalang, aku duduk berhadapan dengan seorang teman lama. Kami makan malam seadanya, tapi rasanya seperti makan kenangan.
Kami bicara tentang lelahnya jadi dewasa, tentang gagal dan kehilangan, tentang bertahan tanpa tahu apa yang sedang diperjuangkan.
Dan entah kenapa, di sela-sela tawa kecil dan keheningan yang nggak canggung, aku merasa hadir kembali. Aku merasa dilihat. Aku merasa ada.
Malam itu, ada sesuatu dalam diriku yang pelan-pelan pulang.
Sejak malam itu, aku mulai jatuh cinta lagi. Bukan ke orang lain, tapi ke hidupku sendiri.
Bukan lewat hal-hal besar, tapi lewat kebiasaan kecil yang dulu sempat kulewatkan. Aku mulai menulis lagi — bukan untuk dibaca, tapi untuk menyentuh luka-luka yang diam.
Aku mulai mendengarkan lagu pakai earphone,
diam-diam nangis kalau perlu. Aku nonton Going Seventeen, karena hatiku rindu tawa yang ringan. Aku nonton K-Drama, karena aku rindu deg-degan tanpa luka. Aku pergi ke tempat-tempat kecil yang terasa akrab:
duduk di taman, bikin batik, jalan kaki,
makan sendiri, senyum ke orang asing.
Aku mulai mengerti, hidup mungkin tidak berubah besar-besaran, tapi aku bisa berubah cara mencintainya.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Aku belum sembuh sepenuhnya. Kadang masih ada hari yang berat. Kadang aku masih merasa ketinggalan. Kadang aku masih menyesali banyak hal.
Tapi setiap kali aku duduk sendiri, dengan lagu pelan dan cahaya lampu kecil, aku suka bilang dalam hati:
“Terima kasih ya, sudah bertahan sampai sini.
Malam itu, aku mulai kembali mencintai hidupku.”
---
📍 Ditulis dari perjalanan yang pelan, dari luka-luka yang sedang belajar tidak malu terlihat,
dari malam yang sederhana, yang mengubah segalanya tanpa suara.
Dewasa ialah hal yang tidak bisa dipungkiri, kian di hentak sunyi guram gusar mulai menganggu isi kepala. Tapi yang kau butuhkan hanya hibahkan bebanmu. Ini hanya secuil sementara bukan ujung dari rencana. Semangat ya~~~
BalasHapusTerima kasih sudah mampir dan menuliskan kata-kata seindah ini.
HapusAku baca pelan-pelan,
seperti orang yang kehausan dan akhirnya diberi tegukan kecil yang penuh rasa.
Kalimatmu akan aku simpan, mungkin akan aku baca ulang di hari yang sunyinya terlalu ramai. Terima kasih ya…
semoga kita sama-sama dikuatkan,
walau hidup kadang terasa terlalu cepat dan tenang dalam waktu yang bersamaan...